DIRIKU

DIRIKU
Aku sendiri d mn aj

Selasa, 19 April 2011

Makalah Pengajaran Sastra


B A B  I
P E N DA H U LU A N

A.    LATAR BELAKANG
Pengajaran sastra di Indonesia sejak lama berada pada posisi dilematis. Pengajaran sastra selama ini kurang menjadi prioritas dalam pendidikan di Indonesia karena narasi besar yang menjadi stereotip di Indonesia. Narasi besar itu adalah murid belajar di sekolah untuk pencapaian sesuatu denagn konsentrasi pada ilmu-ilmu mainstream dalam desain untuk pekerjaan dan status social. Sastra susah masuk dalam narasi besar itu sebab sastra adalah narasi pinggiran dengan orientasi edukatif, kreatif, estetika, filosofis, dan cultural.
Para guru mesti peka dalam pemilihan teks sastra untuk pengajaran sastra sesuai dengan kecenderungan-kecenderungan mutkhir dengan pertimbangan actual dan factual. Teks-teks sastra mutkhir yang mungkin bisa memberi kontribusi untuk strategi pengajaran sastra.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Pengertian strategi pengajaran prosa fiksi?
2.      Strategi pengajaran prosa fiksi !
3.      Strategi pengajaran prosa drama !

C.    TUJUAN
1.      Mendiskripsikan pengertian prosa fiksi
2.      Menjabarka strategi pengajaran prosa fiksi dan drama
3.      Menguaraikan dan menjelaskan metode-metode pengajaran prosa fiksi dan drama secara rinci dan terpisah.


B A B  II
P E M B A H A S A N


STRATEGI PENGAJARAN PROSA FIKSI (SASTRA)
A.    PENGERTIAN STRATEGI PROSA FIKSI
Sistem pengajaran sastra memerlukan pembenahan besar dengan kepentingan untuk pencapaian proses dan hasil maksimal. Sistem itu mengaju pada kurikulum dan strategi guru dalam pengajaran sastar. Suwardi Endraswara (2002) dalam sekian tulisan mengenai pengajaran sastra di Indonesia kerap mempersoalkan kebobrokan dan kelemahan atau dalam istilah yang keren disebut “terkena infeksi”, “terjangkit virus kronis”, dan “suram”. Kondisi-kondisi itu menjadi sebab pengajaran sastra bisa membuat “perut mual” dan “influenza berat”. Istilah-istilah yang digunakan Suwardi Endraswara itu mempresentasikan kondisi pengajaran sastra di Indonesia yang masih bermasalah dan belum menemukan jalan pencerahan.
Strategi guru dalam pengajaran sastra memainkan peran penting untuk merealisasikan idealitas pengajaran sastra. Raymon Rodrigues mengajukan suatu strategi terapan yang mungkin bisa diadopsi dalam pengajaran sastra dengan cara diskusi, bermain peran,  dramatisasi adegan, presentase kemedia, menelaah nilai sastra, menulis kreatif, dan tinjauan kesusastraan. Stratewgi pengajaran sastra itu memang berat untuk bisa direalisasikan oleh guru tapi mungkin dilakukan dengan niat bahwa ada proses pembaruan dalam pengajaran dengan perhitungan gagal dan berhasil.
Beradasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa strategi pengajaran sastra adalah metode-metode/cara yang dapat mempermudah pengajaran sastra dalam pendidikan dan dapat menggugah minat siswa untuk menyenangi sastra. Tujuan pengajaran sastra adalah bagaimana siswa mampu mengapresiasi cipta sastra. Belajar apresiasi sastara pada hakikatnya adalah belajar tentang hidup dan kehidupan.

B.     STRATEGI PENGAJARAN SASTRA

Hal yang erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat pada siswa adalah penggunaan teknik evaluasi pembelajaran. Selama ini, evalusi pembelajaran sastra lebih diarahkan pada penguasaan teori dan sejarah sastra. Soal-soal buatan guru ataupun soal standar nasional belum berorientasi sepenuhnya pada evaluasi yang bersifat apresiatif. Evaluasi yang bersifat apresiatif seharusnya beranjak dari hakikat karya sastra sebagai karya yang memungkinkan timbulnya interpretasi yang beragam, yang mungkin berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lain. Karenanya, penggunaan soal bentuk isian ataupun soal uraian tampaknya lebih tepat digunakan dalam evaluasi pembelajaran sastra. Penggunaan soal bentuk yang lain, pilihan berganda misalnya, memaksa siswa untuk memilih satu jawaban yang dianggap paling tepat oleh pembuat soal sehingga interpretasi personal siswa tidak berkembang.

1.     Strategi Prosa Fiksi
Tugas guru bahasa dan sastra Indonesia adalah akan berurusan dengan pengajaran sastra. Hal ini agar guru dapat menanamkan apresiasi sastra pada diri siswanya, sebagai salah satu tuntunan kurikulum sekolah dalam bidang pengajaran bahasa dan sastra yang ditunjang dengan dengan strategi-strategi pengajarannya, seperti pemilihan bahan ajar, cara penyajian,dsb.
a.      Strategi Analisis
Agar analisis tidak merusak proses penikmatan perlu diperhatikan hakikat dan tujuan analisis adalah :
-          Mengenal bagian-bagian yang membangun cipta sastra
-          Menentukan hubungan antar bagian
-          Menemukan hubungan bagian-bagian tersebut dengan struktur keseluruhan
Analisis selalu diakhiri dengan munculnya pengertian/kesan yang penuh cipta sebagai suatu keseluruhan yang utuh (Kenny, 1966). Dengan analisi, keterampilan intelektual dan nasional dapat berkembang hingga dengan latihan analisis pada akhirnya pembaca akan sampai pada kesenangan untuk mengerjakannya, yang berartiu muncul menggemari, menikmati cipta sastra yang bersangkutan.

2.      Strategi Model Gordon
Model ini ditawarkan oleh Willian J.J Gordon, karena itu disebut model Gordon. Model ini menekankan pada keaktifan dan kreativitas siswa. Model Gordon mengenal tiga teknik, yaitu :
a.       Analogi personal
b.      Analogi langsung
c.       Konflik kempaan
Prinsip yang harus dipegang dari model Gordon di atass adalah :
a.       Jangan membatasi pengalaman yang mungkin diperoleh siswa
b.      Hormati gagasan-gagasan yang muncul
c.       Jangan takuti siswa dengan soal ujian
d.      Biarlah siswa berproses secara bebas
e.       Berilah ruang untuk mengadu pendapat, karena perbedaan individual sangat mungkin terjadi
f.       Gugahlah mereka sehingga timbul ide-ide kreatif dan produktif mereka.

3.      CDA (Critical Discourse Analysis) sebagai model
Dalam CDA, pembelajaran sastra dapat dilakukan dengan tata cara sebagai berikut :
a.       Pemahaman untaian kata dan kalimat dalam wacana secara analisis.
b.      Penguntaian asosiasi semantic dalam wacana dengan konteks, wacana lain secara intertertekstual, maupun pola-pola paraanggapan yang terkait praanggapan logis, semantic, maupun pragmatis.
c.       Asumsi implicit yang melatarbelakangi, cirri koherensinya dengan makna dalam wacana, dan inferensi.
d.      Rekonstruksi pemahaman secara hermeneutis.

Ø      Penyajian Pengajaran
Rahmanto (1988) menguraikan tata cara penyajian yang perlu diperhatikan oleh setiap guru dalam memberikan pengajaran prosa, antara lain meliputi beberapa tahap sebagai berikut :
1.      Pelacakan /pendahuluan
Sebelum prosa disajikan kepada siswa, guru sebaiknya menilik judulnya, isinya, dab bahasa yang sesuai dengan perkembangan siswa.
2.      Penentuan sikap praktis
Untuk memperoleh gambaran tentang isi prosa perlu dibandingkan dengan karya lainnya dengan memperhatikan tema yang sama.
3.      Introduksi
Guru member stimulus kepada siswa dengan cara mengomentari secara singkat jenis prosa yang telah dibacanya agar siswa mempunyai pengetahuan awal tentang bahan yang akan dibaca. Setelah itu, siswa disuruh membaca, baik secara individu, keompok atau bergiliran di depan kelas. Tugas membaca tidak harus diselesaikan pada satu kali tatap muka saja, melainkan beberapa kali tatap muka bahkan dapat pula dilanjutkan siswa membaca di rumah.
4.      Penyajian
Sebelum memulai membahas guru seharusnya telah menyiapkan beberapa pertanyaan bab demi bab secara betahap yang berhubungan dengan isi cerita, misalnya tema, alur, penokohan. Untuk mengembangkan minat baca siswa dan memacu meningkatkan kecepatan membaca, guru dapat menggunakan cara lain seperti pembuatan synopsis baik laporan tertulis atau lisan yang diseritakan secara berantai dikelas.
5.      Tugas-tugas praktis
Selama proses pengajaran, setelah semua selesai dibaca, guru dapat memberikan tugas-tugas paraktis di rumah, seperti membuat diagram tokoh latar cerita dan alur, baik cerita yang dibaca, didengar dari radio, orang lain atau yang diliaht dari televise atau panggung pentas.
6.      Diskusi
Untuk mengakhiri pengajaran sastra, dapat dilakukan dengan diskusi kelompok dan dipresentasikan baik secara lisan maupun tertulis, misalnya mengenai analisis cerita dengan berbagai pendekatan objektif, pragmatic, mimesis, dan ekspresif.

Ø      Model Pengajaran Sastra
1.      Model Strata
Strategi ini diperoleh dari tulisan seorang ahli pendidikan yang bernama Leslie Strata sehingga disebut strategi strata. Wardhani (1981) mengemukakan langkah dalam strategi ini yakni :
a.      Penjelajahan
Siswa melakukan penjelajahan terhadap cipta sastra yang disukainya atau yang disrankan oleh guru. Penjelajahan dapat dilakukan dengan membaca, bertanya, mengamati/menyaksikan pementasan, dan kegiatan yang bertujuan untuk mendapat pemahaman tentang cipta sastra yang sedang dijelajahi.

b.      Interpretasi
Setelah penjelajahan, dilakukuanlah penafsiran terhadap cipta sastra yang dijelajahi. Penafsiran dapat dilakukan dengan presentasi atau sutau penampilan lain. Dapat pula dengan menganalisis unsure-unsur yang membangun cipta sastra tersebut.
c.       Re-Kreasi
Langkah ini adalah langkah pendalaman. Siswa diminta untuk mengkreasikan kembali apa yang telah dipahaminya. Misalnya, mengubah bentuk cerita menjadi drama, menuliskan suatu bagian dalam sastra klasik dengan gaya masa kini, dsb
Cara melaksanakan setiap langkah di atas bergantung pada teknik yang ingin dipergunakan oleh guru. Strategi ini memungkinkan guru bekerja dengan siswa dalam kelompok-kelompok ataupun secara perorangan.

2.      Model Taba
Strategi ini terdiri atas tahap-tahap. Setiap tahap diprakarsai oleh guru dengan pertanyaan guru menetukan jenis kegiatan siswa. Siswa swcacra berurut terlibat dalam suatu proses pembentukan generalisasi., penjelasan/penafsiran, dan ramalan kesimpulan baru (penerapan).
Ada tigatahap pokok dalam model taba ini. Setiap tahap dapat dikembangkan lagi menjadi tahap-tahap baru sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan.
1.      Pembentukan konsep
2.      Penafsiran data
3.      Penerapan prinsip
Penerapan model taba, prinsipnya diperlukan pengkajian unsure-unsur sastra baik intrinsic Maupin ekstrinsik. Siswa harus digiring kea rah generalisasi. Model ini mengikuti pola pemikiran induktif. Melalui model ini, siswa kan bebas terlibat dalam sebuah karya sastra. Mereka dapat membaca sendiri, mendengarkan sebuah pembacaan sastra, menyaksikan pentas drama, selanjutnya diminta member tanggapan. Dari sekian tanggapan siswa, lalu dirangkum, dicari titik temunya, kemudian disimpulkan.

3.      Model Moody
Moody dalam Endraswara (2005) menunjukkan enam tahap penyajian pengajaran sastra yang dapat diterapkan pada apresiasi puisi, yaitu :
a.       Preliminary assessment
b.      Practical decision
c.       Introduction of the work
d.      Presentation of the work
e.       Discussion
f.       Reinforcement (testing)

2.     Strategi Pengajaran Drama

ARTI DRAMA
1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai"          yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak .
3.Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama
Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

Drama adalah bentuk sastra yang dapat merangsang gairah dan ngasikan para pemain dan penonton sehingga sangat digamari masyarakat. Bentuk ini didukung oleh tradisi dari sejak jaman dahulu yang mmelekat erat pada budaya masyarakat setempat. Disamping mudah disesuaikan untuk dimainkan dan dinikmati masyarakat segala umur, drama sangat tinggi nilai pendidikanya. Karana drama merupakan peragaan tingkah laku manusia yang mendasar, drama baru dapat disusun dan dipentaskan dengam berhasil jika diikuti pengamatan yang teliti baik oleh penulis maupun para pemainnya. Tokoh tokoh pendidikan melihat sastra ini sebagi suatu wadah gennerasi mudah dalam menuju kedewasaanya dengan melakukan berbagai macan peran yang perlu dipahami benar. Dengn menghayati berbagai macam peran, para pemuda akan memiliki wawasan yang lebih luas tentang hidup dan kehidupan yang dihadapinya. J.S. Bruner dalam bukunya yang berjudul Towords a theory of instruction (1976) mengungkapkan bahwa :
Drama, novel, sejarah pada umumnya…… disusun berdasarkan lawan asas pilihan menusia yang merupakan pemecahan atas satu pilihan antaru dua kemungkinan yang dihadapinya. Karya-karya itu menurut artinya yang terdalam, sebenarnya mmerupanan “pelajaran” tenatang sebab akibat pilihan manusia. Karana isi yang merik dan dekatnya pada kehidupan, karya-karya itu dapat dijadiak ungkapan untuk meyoroti dilema budaya, termasuk aspirasinya, konflik dan bahan terror-terornya sampai pada tahap tertentu kita telah menginytelektualkan dan mendisiplinkan fakta-fakta sejarah maupun mitos. Maka dalam menyusun rencana pelajaran hendaknya kita memikirkan cara yang dapat memberikan wawasan tentang sifat dan dan keadaan manusia yang sebenarnya satu sama lain yang berbeda. Dramatisasi merupakan suatu cara yang baik untuk menyampaikan hal itu. Cara ini perlu lebih digarap dengan serius karena dapat menimbulkan gerak hati yang kuat untuk mengungkapkan keadaan manusia yang sebenarnya, sehingga’pelajaran’seakan merupakan drama tentang kehidupan manusia.
Tujuan utama dalam mempelajari drama adalah untuk memahami bagaimana suatu tokoh harus diperankan dengan sebaik-baiknya dalam suatu pementasan. Dalam mempelajari drama memang tidak selalu mudah, untuk itu seorang guru (pelatih) dama bertanggung jawab untuk memperkenalkan siswa-siswanya pada kondisi pementasan drama. Dalam kehidupan sehari-hari, ada beberapa hal yang bisa membantu menyampaikan pengalaman pementasan yang secara nyata seperti melalui TV, drama, Film, dan pengalaman hidup sehari-hari.
Mempelajari naskah drama disatu pihak dan pentas drama dipihak lain. Namun, demi kejelasan, hendaknya perbedaan aktivitas tersebut ditekan seminimal mungkin. Perlu diketahui bahwa : Pertama setiap drama mempunyai bentuk dan gaya satu dengan yang lain.pelu dipahami bahwa bentuk dan gaya itu mempunyai tujuan yang tidak sama. Jika bentuk dan gaya ni dicampuradukan sedemikian rupa,maka akan sangat mengecewakan misalanya akan terjadi suatu kesalahan bersar apabila pementasa tragedy, lantaran keliru menafsirkanya maka aakan diatanggapi penonton justru sebagai bahan tertawaan; sebaliknya bentuk komedi malah ditanggapi penonton dengan tegang dan serius.
Pebedaan antara bentuk dan gaya dalam drama dikenali lewat istilah kunci seperti misalnya tragedy (kesediahan dan kemalangan) dan komedi ( tentang lelucon dang tingkah laku konyol) drama komedi sering dibagi menjadi melodrama dan farce (drama olok-olok) yang masing-masing memiliki sendiri meskipun ada kesamaanya. Jenis drama macam ini sering masih pula dibedakan dalam drama-drama rill dan drama-drama simbolik. Untuk penyajian drama yang realis ini perlu dipersiapkan situasi yang mendekati kenyataan sebenarnya dalam pementasanya, misalnya dalam pemakaian bahasanya, kostum, tata panggung dan sebagainya. Sedangkan pada drama simbolik, dalam pemantasanya tidak perlu mewakili apa yang sebenarnya terjadi dalam realita. Bahasa dalam drama simbolik ini misallnya, dapat dibuat puitis, dibumbui dengan music, bahkan sering cukup dengan penggung kosong tanpa hiasan sekalipun.
Variasi panggung gaya pementasan dapat dibedakan dengan dua kategori. Pertama, panggung panggung ketat yakni permainan disajikan berupa pertunjukan penuh diatas penggung. Penonton dapat megamati pwermainan dari keseluruhan dari luar daerah panggung. Kedua, panggung bebas yang memanfaatkan seluruh gedung sebagai arena pertunjukan.
Menulis teks drama menuntut keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang, terutama dalam bidang kebahasaan. Penulis teks drama harus mampu mempertimbangkan kesesuaian antara kata-kata dengan gerak yang diperankan seorang tokoh.
Ada beberapa cara mengajarkan drama pada para siswa sekolah menengah. Sebagai langkah awal, dilakuakan pembacaan naskah drama di dalam kelas sebagi suatu syarat perkenalan. Untuk memperkenalkan drama yang baik, guru juga dapat memanfaatkan pita rekaman atau rekaman video. Dalam pembacaan teks drama sebagai contoh ini, baik direkam maupun tidak, para pemeran hendaknya melengkapi diri dengan penguasaan unsur-unsur bahasa lisan yang perlu diperhatikan. Jika memungkinkan sebelum pembacaan drama dilaksanakan, diadakan latihan yang berulang-ulang agar dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan. Sebagai langkah lebih lanjut, pembacaan oleh siswa dikelas boleh dilaksanakan asal efek-efek dramatis yang penting dalam teks itu telah ditunjukkan dan perlu diapresiasikan.
Seperti kita ketahui unsur yang paling mutlak dalam drama adalah gerak. Suatu drama masih dapat berjalan hanya dengan mimic meski tanpa bahasa lisan. Oleh karena itu, untuk tahap awal siswa perlu diberi latihan gerak sebagai latihan dasar. Latihan gerak dapat dilaksanakan diluar kelas dimana tersedia tempat untuk bertingkah dan untuk mengamati tingkah dengan leluasa. Latihan dapat diawali dengan menyuruh siswa memperagakan gerak-gerak tertentu, kemudian membahasnya bersam-sama dan kalau perlu diperbaiki. Untuk latihan selanjutnya, siswa dapat diminta untuk mengamti aktivitas seseorang dan kemudian menirukannya.
Setelah para siswa berhasil menirukan gerak-gerak sederhana dengan baik, mereka kemudian dapat diminta untuk memikirkan situasi yang lebih kompleks dengan menirukan gerak-gerak yang lebih bervariasi. Dalam latihan ini guru hendaknya dapat memberi contoh bila diperlukan. Misalnya, siswa juga dapat diminta menirukan sekelompok petualang yang mencoba menerobos hutan lebat yang ternyata ditengah hutan itu mereka harus menyebrangi sungai yang deras, kemudian mereka mencari kayu untuk membuat jembatan penyebrangan darurat. Pada latihan selanjutnya, siswa-siswa dapat diminta, untuk menirukan gerak-gerak yang diambil dari cerita atau puisi. Beberapa orang siswa, misalnya mendapat bagian untuk membaca teks, sedang beberapa siswa lain melukiskan dengan gerak yang sesuai.
Sampai pada tahap-tahap tertentu, latihan gerak ini hendaknya mulai disertai dengan latihan mengucapkan kata-kata. Seperti langkah-langkah sebelumnya, latihan ini dimulai dengan perpaduan gerak dan kata-kata sederhana kemudian baru mengarah ke latihan gerak dan kata-kata dengan situasi yang lebuh kompleks. Unsur-unsur gerak dari cerita yang didramatisasi hendaknya dipilih dari yang paling mudah dilakukan.
Untuk latihan perpaduan gerak dengan kata-kata ini, guru hendaknya menentukan cerita dan scenario, terutama yang sebelumnya telah dikenal oleh para siswa. Kadang-kadang dialog yang didramatisasikan sudah tersedia dalam cerita. Tatapi apa billa tidak ada dialig di dalam cerita tersebut, guru dapat membimmbing para siswa untuk membuat dialog sendiri dan mengembangkanya berdasarkan cerita asli.
Tahap selanjutnya, sisiwa hendaknya mulai dibina untuk mencari situasi dramatis dalam cerita dan mencoba menyusunya sendiri. Para siswa yang menunjukan gaya satiris perlu mendapatkan perhatiann khusus karena penemuan unsur-unsur satris ini erat dengan kejelian pengamatan. Biasanya mitos, legenda dan cerita daerah asal si siswa dapat merupakan sumber yang terbukti cukup potensial untuk dikembangkan menjadi karya drama.
Guru-guru sastra hendaknya mencoba memperkenalkan aktifitas-aktifitas drama, hendaknya kemudian diperluas untuk dijadikan hiburan antar kelas untuk mengembangkan minat siswa yang telah tumbuh misalnya: pada acara pentas malam ekpresi, lustrum, perpisahan dan senbagainya. Festifal drama ataupun pementasan dram tahunan juga dapat merupakan penopang yang kuat untuk meningkatka antusiasme siswa terhadap drama. Disamping untuk mengembangkan bakat, pementasan-pementasan itu juga dapat merupakan sarana untuk menyoroti prestasi siswa dalam bidang drama.
Banyak jenis-jenis drama yang penting dipelajari diluar sekolah, ,misalnya sandiwara tradisional, (ketoprak, lenong), wayang orang, sendratari.

Pengajaran drama di sekolah dapat ditafsirkan dua macam, yaitu pengajaran teori drama dan pengajaran aoresiasi drama. Masing-masing juga terdiri atas dua jenis yaitu : pengajaran teori tentang teks (naskah) drama, dan pengajaran tentang teori pementasan drama. Pengajaran apresiasi naskah drama dan apresiasi pementasan drama. Kedua hal ini penting, hanya saja tekanannya harus pada aspek apresiasi. Jika teori-teori termasuk dalam kawasan kognitif, maka apresiasi menitikberatkan kawasan afektif (sesuai dengan taksonomi Bloom ).
Pengajaran drama sebagai penunjang pemahaman bahasa berarti untuk melatih keterampilan membaca (teks drama) dan menyimak atau mendengarkan (dialog pertunjukkan drama ). Sementara sebagai penunjang latihan penggunaan bahasa artinya keterampilan menulis (teks drama, resensi drama, resensi pementasan) dan wicara( melakukan pentas drama ).
Endraswara (2005) mengemukakan bahwa aspek pedagogis drama hamper tak diragukan lagi oleh kaum intelektual. Dengan pengajaran drama, akan membangkitkan rasa cinta, imajinasi, rasa estetis, dan mendidik perilaku social budaya. Karena drama merupakan “wadah” pikiran, perasaan, dan sifat-sifat manusia.
Dalam pelaksanaannya, pengajaran drama memerlukan strategi yang matang dan tentunya membutuhkan beberapa prinsip pengajaran agar dapat terlaksana dengan baik. Howes (1954) mengemukakan beberapa prinsip pengajaran drama sebagai berikut :
a.       Jika menggunakan TV dan Film hendaknya bisa menggambarkan pengalaman subjek didik secara menyeluruh
b.      Membantu subjek didk agar mampu memproduksi dan menvisualisasikan  darama ke dalam pentas
c.       Bahasa drama hendaknya disesuaikan dengan kemampuan subjek didik
d.      Perlu mengenalkan drama TV ke kelas sebagai media pengajaran
e.       Keberhasilan pengajaran drama bergantung pada visualisasi penampilan di layar dan panggung

Ø      Metode pengajaran Drama
Mackey menyebut metode sebagai proses belajar mengajar secara keseluruhan yang meliputu hal-hal berikut :
1.      Seleksi (pemilihan ) Materi
Seleksi materi ditentukan tujuan pengajaran itu, untuk melatih keterampilan mana, konsep, informasi, apresiasi, atau malahan tujuan pengajaran drama. Be Kim Nio menyebutkan syarat-syarat naskah drama yang akan diajarkan, yaitu:
a.       Sesuai dan menarik, bagi tingkat kematangan jiwa murid, untuk remaja SMU, naskah jangan terlalu berat dan filosofis, untuk mahasiswa dapat lebih bebas
b.      Bahasanya dengan tingkat kesukaran yang sesuai dengan kemampuan bahasa siswa yang membaca (menonton)
c.       Bahasanya sebaiknya bahasa standar, kecuali dalam dagelan atau yang berhubungna dengan dialek
d.      Isinya tidak bertentangan dengan haluan Negara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar